Cara Memberi Pujian Yang Tepat Untuk Anak Agar Percaya Diri

Cara Memberi Pujian Yang Tepat Untuk Anak Agar Percaya Diri

-advertisement-

Pujian memiliki efek yang kuat pada anak-anak yang sedang berkembang. Memberi pujian yang benar adalah dengan memuji ketika Anda menyukai perilaku baik yang anak lakukan.

Pujian dapat memupuk harga diri dan kepercayaan diri mereka untuk terus berusaha keras. Anak akan termotivasi untuk menemukan strategi untuk mengatasi tantangan.

Dengan menggunakan pujian, Anda menunjukkan kepada anak cara berpikir positif mengenai dirinya sendiri. Anda membantu anak Anda mengenali kapan ia melakukan sesuatu dengan baik.

Anda dapat memuji anak-anak di setiap tahapan usia yang berbeda. Anda dapat memuji anak balita karena mencoba mengikat tali sepatu sendiri. Anda dapat memuji anak remaja karena pulang ke rumah tepat waktu, atau karena menyelesaikan pekerjaan rumah tanpa disuruh.

Pemberian Pujian Yang Salah

Ada kebiasaan buruk yang harus kita sadari ketika kita melontarkan pujian bagi anak, karena tidak semua pujian itu baik. Kebiasaan buruk ini adalah saat kita terbiasa memberi pujian pada penampilan fisik, bakat, atau kepintarannya.

Contohnya adalah:

  • “Wah, kamu cantik ya!”
  • “Adek pintar deh!”
  • “Anak ganteng anaknya siapa?”
  • “Gambarnya bagus banget, kamu pintar gambar ya!”.

Sekilas contoh di atas tidak ada yang salah bukan? Ternyata tidak sesederhana itu.

Tidak semua pujian memiliki manfaat yang sama. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa beberapa jenis pujian dapat menjadi bumerang dan membuat anak-anak meragukan kemampuan diri mereka.

Para peneliti menemukan bahwa memuji anak-anak untuk kepintaran mereka lebih berbahaya daripada kebaikan yang dilakukan. Hal ini nantinya dapat membuat mereka kesulitan menangani kegagalan.

Dan bagi anak-anak yang terbiasa dipuji penampilannya, mereka akan menempelkan nilai tersebut pada dirinya lebih daripada nilai yang lebih berbobot seperti etika atau usahanya.

-advertisement-

Sebaliknya, anak-anak yang menerima pujian atas usaha dan perbuatan baik mereka akan tumbuh menjadi lebih gigih dan tidak mudah menyerah. Mereka akan lebih menghargai upaya daripada bakat dan penampilan.

Maka dari itu, sejak masih kecil, penting bagi kita untuk memberi pujian yang berfokus pada proses, bukan hasil.

Namun Anda juga tidak boleh memberi terlalu sering pujian. Pujian dapat kehilangan dampaknya jika dilakukan tidak spesifik.

Dan pujian juga jangan sering diucapkan ketika anak tidak melakukan apa-apa. Mereka akan menanggapinya bahwa tidak harus melakukan apa pun untuk dipuji.

Jenis-Jenis Pujian

1. Pujian Pribadi

Pujian pribadi mengarah pada kemampuan alami anak-anak, seperti kecerdasan atau bakat bermain piano. Ini adalah jenis pujian yang sering kita gunakan untuk mengekspresikan kasih sayang. Misalnya, “Suara nyanyian kamu bagus sekali.”

Pujian pribadi cenderung berfokus pada bakat/faktor yang dimiliki anak sejak lahir. Tapi hati-hati, pujian semacam ini bisa membuat anak merasa kurang percaya diri. Anak-anak dapat berpikir kalau mereka sudah dikaruniai dengan bakat tertentu, mereka tidak akan terpikir bahwa mampu mengeksplor bakat atau kemampuan lain.

Pujian pribadi dapat membuat anak-anak kurang mau mencoba hal-hal baru. Mindset mereka jadi kurang berkembang. Kurang percaya bahwa kemampuan mereka dapat meningkat seiring waktu.

2. Pujian Berbasis Upaya

Pujian ini berfokus pada faktor yang dapat dikendalikan. Misalnya berapa banyak waktu yang mereka habiskan untuk sebuah karya seni. Pujian semacam ini lebih memberdayakan daripada pujian pribadi.

Contoh kasusnya seperti ini:

Anak Anda mendapat nilai bagus di mata pelajaran matematika.

  • Pujian pribadi: “Wow, kamu pandai berhitung ya!”
  • Pujian berbasis usaha: “Ayah bangga dengan seberapa keras kamu belajar untuk ujian matematika ini. “

pujian-berbasis-upaya

Efek pujian berbasis upaya akan lebih kuat jika dilakukan secara spesifik. Misalnya, “Kamu pintar karena tidak menggangu Bunda berbicara di telepon.” Pujian seperti itu dengan jelas memberi tahu anak-anak apa yang mereka lakukan dengan baik. Ini juga mengingatkan mereka tentang perilaku yang ingin Anda lihat.

Anda juga dapat menggunakan pujian semacam ini untuk memperlihatkan pada anak bahwa Anda memperhatikan dan menyetujui langkah-langkah yang mereka ambil untuk menjadi lebih baik dalam sesuatu.

Misalnya, targetnya adalah anak datang ke sekolah tepat waktu. Ada langkah-langkah kecil seperti: bangun tidur, mandi, berpakaian, dan persiapan lain. Jika Anda memuji langkah-langkah yang dilakukan anak Anda dengan baik, Anda menunjukkan bahwa tujuan yang lebih besar dapat mereka capai jika terus dilakukan secara konsisten.

Menggunakan Pujian Untuk Mengubah Perilaku

Anak-anak lebih cenderung mengulangi perilaku yang menghasilkan pujian. Dengan begitu kita dapat menggunakan pujian untuk membantu mengubah perilaku yang jelek dan menggantinya dengan perilaku yang baik.

Caranya dimulai dengan mengamati saat-saat ketika anak Anda berperilaku baik seperti yang Anda inginkan. Segera berikan pujian kepada anak Anda dan beri tahu alasannya.

Kemudian setelah itu Anda bisa memuji setiap kali Anda melihat perilaku baiknya. Ketika sang anak mulai terbiasa melakukan perilaku baik lebih sering, Anda dapat mengurangi pujian tersebut.

Jika Anda menggunakan pujian untuk mengubah perilaku, kami ulangi kembali, Anda sebaiknya memberi pujian atas usaha atau prestasinya. Misalnya, ‘Kamu sudah meminta mainan dengan sopan, Bunda suka sekali’.

Cara Memberi Pujian

Ketika Anda memuji upaya anak Anda, cobalah untuk:

Lebih spesifik. Daripada mengatakan “Kamu begitu hebat saat di mall tadi,” buat komentar yang lebih terperinci: “Terima kasih ya sudah bersabar waktu Papa mengantri.” Ini dapat membantu anak Anda mengingat untuk bersabar ketika sedang mengantri di suatu barisan.

Ucapkan dengan tulus. Anak-anak dapat merasakan ungkapan Anda yang tidak tulus. Pujian seperti “Kamu adalah pemain bola terbaik di dunia!” – dapat membuat anak-anak bertanya-tanya mengapa Anda tidak mengatakan yang sebenarnya. Bahkan mungkin membuat mereka merasa Anda berpikir mereka tidak bisa melakukan yang lebih baik.

Deskriptif (jelas). Bersikap deskriptif tentang apa yang Anda puji. “Warna yang kamu pakai di gambar benar-benar cocok” Lebih bermanfaat daripada “Gambar mu bagus sekali!” Ini membantu menghilangkan tekanan untuk menjadi sempurna atau menjadi yang terbaik. Dengan menjadi realistis, kita membantu anak-anak memahami apa yang sedang mereka kerjakan untuk menjadi lebih baik.

Fokus pada progres. Ini membantu anak-anak melihat bagaimana upaya mereka membuahkan hasil dan membuat mereka tetap termotivasi. Misalnya: “Mama tahu seberapa sering kamu latihan basket. Mama lihat tembakan basket mu lebih baik dari bulan kemarin.”

Perlihatkan bahwa tindakan mereka memengaruhi orang lain. Pujilah anak-anak atas bagaimana tindakan mereka memengaruhi orang lain. Misalnya, “Terima kasih telah membantu mencuci piring. Bunda sangat terbantu.” Ini juga menunjukkan kepada anak-anak bahwa mereka adalah anggota keluarga yang berharga atau bagian penting dari kelompok.

Bantu anak mengekspresikan perasaan. Terkadang anak-anak perlu bantuan mengenali emosi mereka sendiri dan menyadari pencapaian baik mereka. Misalnya, jika Anda memuji kerja keras anak Anda dalam matematika, Anda dapat menambahkan: “Kamu harus merasa bangga karena semua waktu belajar mu menghasilkan nilai baik.”

Apa yang Harus Diperhatikan

Penting untuk memuji anak-anak berdasarkan seberapa baik yang mereka lakukan dibandingkan dengan diri mereka sendiri sebelumnya — bukan perbandingan dengan anak lain. Pujian berdasarkan upaya yang lebih baik dari teman-temannya dapat membuat anak meragukan kemampuan mereka. Terutama jika suatu saat mereka mulai menghadapi persaingan yang lebih ketat.

Itulah sebabnya mengatakan, “Ayah bangga karena kamu belajar cara mengeja kata-kata yang rumit!” akan lebih membangun daripada “Ayah bangga kamu juara pertama lomba mengeja.”

Sepertinya agak rumit ya untuk memuji anak-anak? Asal semua dilakukan dengan tulus dan benar, nantinya kita sendiri kok yang akan bangga pada anak-anak kita.

Gheantisa Sagita Zuels, SST.OT
Latest posts by Gheantisa Sagita Zuels, SST.OT (see all)

-advertisement-

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *