Hubungi Kami

Jam Layanan

Senin – Sabtu : 08.00 – 16.00

Penting! Ini 5 Penyebab Gangguan Sensori Integrasi Pada Anak

Penyebab Gangguan Sensori Integrasi

Otak memiliki peran besar dalam menerjemahkan setiap rangsangan agar manusia mampu merespon rangsangan dari lingkungan sekitarnya. Namun, adakalanya sistem saraf ini gagal mengolah berbagai informasi tersebut. Hal inilah yang kemudian memicu munculnya gangguan sensori integrasi pada Si Kecil.

Memahami faktor penyebab gangguan sensori integrasi membantu Ayah Bunda memberikan stimulasi yang tepat pada Si Kecil. Pengetahuan ini menjadi dasar penting agar anak tetap bisa tumbuh optimal meski memiliki cara belajar berbeda. 

Simak ulasan berikut untuk mengenali pemicu serta solusi praktis dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Baca Juga: 5 Manfaat Terapi Sensori Integrasi Yang Sering Diabaikan!

Apa Itu Gangguan Sensori Integrasi?

Sebelum membahas lebih lanjut tentang penyebab gangguan sensori integrasi, akan lebih baik jika Ayah Bunda mengerti dulu apa itu gangguan sensori integrasi. Gangguan sensori integrasi atau yang sering disebut dengan sensory processing disorder (SPD) adalah kondisi neurologis saat otak kesulitan memproses informasi dari indra. 

Hal tersebut memicu munculnya masalah perilaku, emosi, motorik, hingga konsentrasi pada Si Kecil. Anak dengan kondisi ini biasanya menunjukkan reaksi yang tidak biasa terhadap lingkungan sekitarnya. Sebagian anak mungkin menjadi terlalu sensitif (hipersensitif), sebagian lainnya justru kurang sensitif (hiposensitif).

Gejala yang muncul pada setiap anak sering kali berbeda. Namun, terdapat beberapa tanda umum yang sering terlihat saat anak mengalami gangguan sensori integrasi.

  • Hipersensitif (Terlalu Peka): Menghindari sentuhan, tekstur pakaian, rasa makanan tertentu, takut ketinggian, suara keras, hingga cahaya terang.
  • Hiposensitif (Kurang Peka): Sangat aktif, suka berputar, sering menabrak benda, kurang menyadari rasa sakit, hingga suka mencium benda.
  • Masalah Motorik & Fokus: Gerakan tubuh tampak kikuk, koordinasi buruk, kesulitan menulis halus, hingga sulit untuk berkonsentrasi.

Apa Saja Penyebab Gangguan Sensori Integrasi?

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa masalah ini tidak muncul karena satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari beberapa hal. Berikut adalah rincian mengenai faktor penyebab gangguan sensori integrasi yang memengaruhi sistem pengolahan indra pada anak:

1. Faktor Genetik

Penyebab Gangguan Sensori Integrasi

Penyebab gangguan sensori integrasi yang pertama adalah faktor genetik atau keturunan. Penelitian menunjukkan bahwa faktor keturunan berperan besar dalam kemampuan otak mengolah rangsangan luar. Anak yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan kondisi serupa berisiko lebih tinggi mengalami gangguan serupa.

Gen tertentu berperan dalam mengatur tingkat sensitivitas indra terhadap suara, cahaya, maupun sentuhan fisik. Perbedaan kondisi biologis tersebut membuat otak tidak bisa menyaring informasi yang masuk secara otomatis. Akibatnya, hal sepele bagi orang lain bisa terasa menyakitkan atau justru tidak terasa sama sekali bagi anak.

Kondisi saraf ini yang akhirnya memicu perilaku yang sulit dikendalikan. Anak mungkin menjerit ketakutan hanya karena mendengar suara bising atau justru terus berlari tanpa lelah.

2. Faktor Kehamilan dan Kelahiran 

Penyebab Gangguan Sensori Integrasi

Penyebab gangguan sensori integrasi yang kedua adalah kondisi selama kehamilan dan kelahiran. Paparan zat berbahaya seperti alkohol, obat-obatan, hingga stres berlebih dapat mengganggu pembentukan jaringan otak. Selain itu, infeksi yang menyerang ibu hamil berisiko memicu masalah pengolahan informasi sensorik pada anak setelah lahir.

Proses persalinan yang sulit seperti bayi lahir prematur atau berat badan rendah juga menjadi faktor pemicu. Kondisi ini sering kali disertai kekurangan oksigen yang berdampak pada kemampuan otak merespons rangsangan. Saraf yang belum matang sempurna membuat anak kesulitan mengolah informasi dari lingkungan luar. 

3. Kondisi Perkembangan Neurologis

Penyebab Gangguan Sensori Integrasi

Beberapa kondisi seperti autisme atau ADHD sering kali menjadi penyebab gangguan sensori integrasi pada Si Kecil. Otak mereka tidak bisa menyaring suara, cahaya, atau sentuhan yang masuk secara bersamaan seperti anak lainnya. Akibatnya, anak mudah merasa kewalahan karena semua informasi dari lingkungan masuk tanpa ada yang disaring.

Rasa kewalahan ini membuat tubuh anak merasa terancam meski hanya menghadapi rangsangan yang sebenarnya normal. Hal tersebut memicu munculnya luapan emosi atau rasa stres yang berlebihan saat mereka berada di tempat ramai. Ketidakmampuan otak dalam menyaring gangguan ini akhirnya merambat pada masalah fisik lainnya, seperti koordinasi tubuh yang buruk.

Anak menjadi terlihat kikuk atau sering terjatuh karena otak kesulitan memproses sinyal dari otot dan sendi. Mereka tidak mendapatkan gambaran posisi tubuh yang jelas saat sedang bergerak atau berpindah tempat. Ketidakseimbangan ini membuat anak kesulitan melakukan kegiatan yang membutuhkan ketelitian tinggi dalam aktivitas harian mereka.

4. Faktor Lingkungan Traumatis

Penyebab gangguan sensori integrasi selanjutnya datang dari lingkungan yang traumatis. Pengalaman traumatis pada masa awal pertumbuhan dapat memengaruhi cara otak dalam memproses informasi. Lingkungan yang tidak nyaman atau penuh tekanan membuat saraf anak terus berada dalam kondisi waspada.

Kondisi waspada yang berlebihan ini memicu munculnya reaksi pertahanan diri yang tidak terduga. Anak mungkin akan menjerit atau menarik diri secara tiba-tiba meski hanya terkena sentuhan lembut. Saraf yang terbiasa berada dalam situasi stres menganggap setiap rangsangan baru sebagai sesuatu yang menyakitkan bagi tubuh mereka.

Pola pertahanan diri tersebut lambat laun menetap dan memengaruhi interaksi sosial anak setiap hari. Mereka cenderung merasa cemas atau takut saat harus menghadapi perubahan suasana di sekitar tempat tinggalnya. 

5. Kurangnya Stimulasi

Gangguan sensori integrasi yang terakhir adalah kurangnya stimulasi indra sejak dini. Otak anak membutuhkan berbagai stimulasi indra secara rutin untuk membantu perkembangan saraf mereka. 

Anak yang jarang bergerak membuat sistem sarafnya tidak terlatih secara alami. Kebiasaan bermain gawai terlalu lama sering membatasi interaksi fisik anak dengan dunia luar. Otak pun menjadi tidak terbiasa mengenali berbagai jenis suara, sentuhan, atau gerakan di sekitarnya.

Kurangnya aktivitas ini membuat indra anak kaget saat menerima rangsangan baru. Saraf yang tidak terlatih akan menganggap suara atau sentuhan sederhana sebagai sesuatu yang menakutkan.

Kondisi ini juga berdampak pada cara anak menggerakkan anggota tubuh mereka. Anak terlihat kaku karena otak tidak terbiasa mengatur keseimbangan saat mereka berpindah tempat. Tanpa banyak gerak sejak dini, kemampuan sensorik anak akan sulit berkembang mengikuti usianya.

Baca Juga: Bagaimana Cara Melakukan Terapi Sensori Integrasi di Rumah?

Temukan Layanan Terapi Sensori Integrasi Terbaik di Pusat Terapi Bermain

Masalah pengolahan indra pada anak tidak dapat membaik dengan sendirinya. Ayah Bunda membutuhkan bantuan terapis profesional untuk mengetahui penyebab gangguan sensori integrasi secara spesifik. Pendampingan yang tepat membantu sistem saraf anak menjadi lebih matang dalam menghadapi berbagai rangsangan harian.

Jika ingin memberikan dukungan terbaik untuk Si Kecil, Ayah Bunda bisa mencoba berkonsultasi lebih lanjut dengan terapis profesional melalui Layanan Terapi Sensori Integrasi dari Pusat Terapi Bermain. Setiap program disusun secara personal oleh tenaga ahli agar sesuai dengan keunikan profil sensorik Si Kecil. Kami memastikan proses perkembangan berjalan menyenangkan melalui metode bermain yang terarah.

Segera pilih jadwal konsultasi dengan terapis di cabang terdekat  agar masa depan Si Kecil lebih cerah!

 

Scroll to Top