Kenali Apa Itu Terapi Perilaku dan Manfaatnya Untuk Anak

Kenali Apa Itu Terapi Perilaku dan Manfaatnya Untuk Anak

Apa itu terapi perilaku? Terapi perilaku adalah istilah umum untuk jenis terapi yang mengobati gangguan perilaku negatif atau gangguan kesehatan mental. Terapi ini berusaha mengidentifikasi dan membantu mengubah perilaku tidak sehat yang berpotensi merusak diri sendiri.

Gagasan utamanya adalah bahwa semua perilaku dipelajari dan bahwa perilaku tidak sehat dapat diubah. Fokus perawatan seringkali tertuju pada permasalahan yang aktual saat ini dan bagaimana dapat mengubahnya.

Terapi perilaku sering juga dikenal sebagai terapi behaviour atau terapi tingkah laku.

Tujuan utama terapi  behaviour adalah untuk memperkuat perilaku yang diinginkan dan menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan atau maladaptif. Terapi ini berakar pada prinsip behaviorisme, dasar pemikiran yang kita pelajari dari lingkungan kita melalui tindakan.

Karena itu, terapi perilaku cenderung sangat fokus. Perilaku si subjek adalah masalah itu sendiri dan objektifnya adalah untuk mengajarkan subjek perilaku baru untuk meminimalkan atau menghilangkan masalah utamanya.

Tingkah laku terdahulu menyebabkan berkembangnya masalah dan idenya adalah bahwa tingkah laku baru dapat memperbaikinya.

Terapi Perilaku Untuk Anak-Anak

Perilaku anak-anak dan remaja sangat bervariasi. Tidak hanya tingkah laku positif, beberapa pikiran bermasalah atau perilaku negatif juga dapat secara tidak sadar atau tidak sengaja “dihargai” dalam lingkungan anak-anak remaja.

Pujian atau dorongan seperti ini sering berkontribusi pada peningkatan frekuensi pikiran negatif dan perilaku yang tidak diinginkan. Terapi  ini dapat diterapkan pada berbagai gejala psikologis di kalangan remaja dan anak-anak.

Meskipun terapi perilaku bisa sangat bervariasi secara substansial pada setiap gangguan berbeda, terapis dapat mendorong anak-anak untuk mencoba perilaku baru. Dengan begini mereka dapat menghargai perilaku yang diinginkan, dan mengabaikan perilaku yang tidak diinginkan. Sehingga memungkinkan perilaku tidak sehat dapat dipadamkan.

Misalnya, bayangkan seorang anak remaja bernama Srikandi kesulitan menyelesaikan pekerjaan rumah. Untuk mendorong perilaku yang diinginkan, orang tua Srikandi dapat merencanakan imbalan atau poin harian. Pekerjaan rumah yang diselesaikan mendapatkan poin. Poin ini dapat ditukar dengan imbalan yang Srikandi inginkan (misalnya boleh pergi bermain dengan teman).

Hadiah ini haruslah sesuatu yang diinginkan sang anak dan harus secara spesifik terikat pada tujuan tertentu (penyelesaian pekerjaan rumah).

Memang pada awalnya anak-anak muda akan bekerja karena ada hadiah/hukuman, karena faktor eksternal. Tetapi seiring waktu, tugas itu sendiri menjadi terasa lebih mudah dan ganjaran terasa lebih ringan. Kemudian, tujuan baru dapat tercipta.

Sekali lagi, dalam terapi perilaku, orang tua dan anak-anak diharuskan untuk sama-sama belajar untuk mempromosikan perilaku yang diinginkan dan mengurangi perilaku yang tidak diinginkan.

Salah satu jebakan umum yang sering dialami sebuah keluarga adalah tidak sengaja menghargai perilaku yang salah.

Kita ambil contoh yang tadi. Srikandi yang belum menyelesaikan pekerjaan rumahnya, tetapi benar-benar ingin pergi bermain dengan teman-temannya. Meskipun Srikandi keberatan untuk mengerjakan PRnya, dia tetap mencoba mengerjakan.

Namun kemudian dia menjadi mudah marah, mudah tersinggung, dan tidak patuh kepada orang tuanya. Setelah Srikandi mengamuk dan berperilaku buruk, orang tuanya memutuskan tidak ambil pusing lagi dan mengizinkannya pergi bermain.

Dengan keputusan seperti ini, orang tua Srikandi secara tidak sengaja memberi hadiah, atau memperkuat perilaku negatif remaja.

contoh-perilaku-negatif

Cara terbaik untuk menangani situasi ini adalah dengan mengabaikan perilaku negatif dan memperkuat perilaku yang diinginkan (upaya untuk mengerjakan PR) sesering mungkin.

Hal krusial yang dilakukan terapis perilaku adalah berusaha memahami hubungan antara perilaku, imbalan, dan pembelajaran, dan untuk membantu anak dan orang tua membentuk perilaku mereka sendiri untuk memenuhi tujuan individu dan keluarga.

Siapa Yang Mendapat Manfaat dari Terapi Behaviour?

Terapi perilaku dapat bermanfaat bagi orang-orang dengan berbagai gangguan.

Orang biasanya mencari terapi ini untuk menangani:

  • depresi
  • kegelisahan
  • gangguan panik
  • masalah kemarahan

Ini juga dapat membantu mengobati kondisi dan gangguan seperti:

  • gangguan makan
  • gangguan stres pasca-trauma (PTSD)
  • gangguan bipolar
  • ADHD
  • fobia, termasuk fobia sosial
  • gangguan obsesif kompulsif (OCD)
  • menyakiti diri sendiri
  • penyalahgunaan zat psikotropkia

Selain anak-anak, jenis terapi ini juga dapat bermanfaat bagi orang dewasa. Namun seringkali dilakukan pada anak-anak.

Bagaimana Terapi Perilaku Bekerja

Untuk memahami bagaimana terapi ini bekerja, mari mengeksplorasi dua prinsip dasar yang berkontribusi pada terapi perilaku: pengkondisian klasik dan pengkondisian operan.

Pengkondisian Klasik

Pengkondisian klasik melibatkan pembentukan asosiasi antara stimulus/rangsangan. Stimulus netral sebelumnya dipasangkan dengan stimulus yang secara alami dan secara otomatis membangkitkan respons/reaksi. Setelah pasangan stimulus terjadi berulang, sebuah asosiasi baru terbentuk dan stimulus yang sebelumnya netral dapat aktif membangkitkan responnya sendiri.

Pengkondisian Operan

Pengondisian operan berfokus pada bagaimana imbalan dan hukuman dapat dimanfaatkan untuk menambah atau mengurangi frekuensi perilaku. Perilaku yang diikuti oleh konsekuensi yang diinginkan lebih mungkin terulang lagi di masa mendatang, sementara yang diikuti oleh konsekuensi negatif jadi lebih jarang terjadi.

Jenis Metode Terapi Perilaku

Ada beberapa jenis metode untuk terapi perilaku:

1. Terapi perilaku kognitif

Terapi perilaku kognitif cukup populer. Metode ini menggabungkan terapi perilaku dengan terapi kognitif. Ide dasarnya adalah bagaimana pikiran dan keyakinan seseorang memengaruhi tindakan dan suasana hati mereka; berporos pada masalah seseorang pada waktu ini dan bagaimana menyelesaikannya.

Tujuan jangka panjangnya adalah mengubah pola pikir dan perilaku seseorang menjadi lebih sehat.

2. Terapi bermain perilaku kognitif

Terapi bermain perilaku kognitif umumnya digunakan dengan anak-anak. Dengan menonton anak-anak bermain, terapis dapat memperoleh wawasan tentang apa yang tidak dapat diungkapkan atau tidak diungkapkan oleh anak.

Anak-anak dapat memilih mainan mereka sendiri dan bermain dengan bebas. Mereka dapat diminta untuk menggambar atau menggunakan mainan untuk membuat jalan cerita sendiri ketika.

Terapis dapat mengajarkan orang tua bagaimana menggunakan permainan untuk meningkatkan komunikasi dengan anak-anak mereka.

3. Desensitisasi sistem

Desensitisasi sistem sangat bergantung pada pengkondisian klasik. Metode ini biasanya digunakan untuk mengobati fobia. Seseorang diajari untuk mengganti respons ketakutan terhadap fobia dengan respons relaksasi.

Pertama-tama seseorang diajari teknik relaksasi dan pernapasan. Setelah teknik tersebut dikuasai, terapis perlahan-lahan akan mengekspos mereka pada ketakutan mereka dalam dosis yang lebih tinggi saat mereka mempraktikkan teknik ini. Sang pasien diharapkan dapat mempraktikkan teknik relaksasi dalam kondisi ketakutan level tinggi.

4. Terapi penolakan

Terapi penolakan sering digunakan untuk mengobati masalah seperti penyalahgunaan zat psikotropika dan alkoholisme. Metode ini bekerja dengan mengajari seseorang untuk mengaitkan stimulus yang tidak sehat (meskipun diinginkan) dengan stimulus yang sangat tidak menyenangkan.

Stimulus yang tidak menyenangkan dapat berupa sesuatu yang menyebabkan ketidaknyamanan. Sebagai contoh, seorang terapis dapat mengajarkan Anda untuk mengasosiasikan alkohol dengan ingatan buruk.

Apakah Terapi Perilaku Efektif?

Sekitar 75 persen orang yang menjalani terapi perilaku kognitif mengalami beberapa manfaat dari perawatan. Penelitian telah menunjukkan bahwa terapi bermain sangat efektif pada anak-anak usia 3 hingga 12. Namun, terapi ini semakin banyak digunakan pada orang-orang dari segala usia.

Terapi ini kadang-kadang bisa lebih efektif daripada pendekatan lain. Fobia, gangguan panik, dan gangguan obsesif-kompulsif adalah contoh masalah yang memiliki respons baik terhadap perawatan perilaku.

Namun, penting untuk dicatat bahwa pendekatan terapi behaviour tidak selalu merupakan solusi terbaik. Sebagai contoh, terapi perilaku bukan pendekatan terbaik ketika mengobati gangguan kejiwaan serius tertentu seperti depresi dan skizofrenia.

Terapi behaviour mungkin efektif dalam membantu seseorang mengelola atau mengatasi aspek-aspek tertentu dari kondisi kejiwaan ini, tetapi harus digunakan bersama dengan perawatan medis dan terapi lainnya yang direkomendasikan oleh dokter, psikolog atau psikiater.

Untuk informasi yang lebih spesifik dan sesuai dengan kebutuhan Anda maupun anak Anda, silakan datang Klinik Terapi Perilaku kami.

Gheantisa Sagita Zuels, SST.OT

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *