![]()
Tahukah Ayah Bunda? Kasus speech delay pada anak meningkat pesat sejak pandemi. Banyak faktor yang membuat Si Kecil sulit mengeluarkan kata pertamanya. Salah satunya adalah terbatasnya interaksi sosial secara langsung. Masalahnya, setiap anak yang terlambat bicara punya alasan yang berbeda-beda. Inilah mengapa Ayah Bunda harus mengenali jenis-jenis speech delay. Tanpa tahu jenisnya, stimulasi yang Ayah Bunda berikan bisa saja tidak tepat sasaran.
Baca Juga: Kapan Anak Dikatakan Speech Delay? Kenali Tandanya
Jenis-Jenis Speech Delay
Sering kali, orang tua mengira keterlambatan bicara hanya soal Si Kecil yang belum mau bersuara. Padahal, masalah komunikasi ini sebenarnya melibatkan proses kerja otak dan koordinasi otot yang cukup rumit. Dengan mengenali pembagian jenis speech delay, Ayah Bunda bisa lebih memahami kebutuhan si Kecil. Simak penjelasan detailnya berikut ini!
1. Berdasarkan Kemampuan Bahasa

Dalam medis, kemampuan bahasa tidak sesederhana mengeluarkan suara. Ada proses rumit di otak untuk mengolah pesan masuk dan keluar. Perbedaan cara kerja otak inilah yang menentukan klasifikasi hambatan Si Kecil. Mari kita bedah lebih dalam mengenai jenis speech delay dari aspek kognitif ini.
a. Gangguan Bahasa Ekspresif (Expressive Language Disorder)
Si Kecil sebenarnya paham maksud ucapan Ayah Bunda. Mereka bisa mengikuti perintah dengan baik. Namun, mereka kesulitan menyusun kata untuk menjawabnya. Mereka lebih sering memakai bahasa tubuh untuk berkomunikasi. Kosa kata yang mereka kuasai pun masih sangat sedikit. Kondisi ini termasuk jenis speech delay yang paling sering ditemukan.
b. Gangguan Bahasa Reseptif (Receptive Language Disorder)
Di sini, Si Kecil sulit mengartikan ucapan Ayah Bunda. Mereka mendengar suara, tapi otaknya sulit menangkap makna. Anak sering terlihat bingung saat menerima perintah yang sederhana. Mereka mungkin tidak merespons meski namanya dipanggil berkali-kali. Hal ini terjadi karena mereka tidak paham maksud panggilan tersebut.
c. Gangguan Bahasa Campuran Reseptif-Ekspresif
Ini adalah gabungan hambatan ekspresif dan juga reseptif. Si Kecil sulit memahami sekaligus kesulitan untuk memproduksi kata-kata. Speech delay jenis ini biasanya akan tertinggal sangat jauh dengan teman sebayanya.
2. Berdasarkan Produksi Suara (Speech Sound)

Tidak semua anak speech delay itu bermasalah dengan pemahamannya. Ada kondisi di mana otak sudah siap bicara, namun organ fisiknya tidak bekerja. Hal ini berkaitan dengan kendala mekanis pada mulut Si Kecil. Mari kita bedah jenis speech delay yang murni disebabkan oleh hambatan produksi suara.
a. Gangguan Artikulasi
Si Kecil kesulitan menggerakkan organ mulutnya dengan posisi yang tepat. Lidah, bibir, atau rahang mereka belum cukup lentur dan kuat. Akibatnya, bunyi yang keluar terdengar kurang jelas atau cadel. Contohnya,saat si Kecil kesulitan mengucapkan huruf R atau S. Jika terus menetap di usia matang, kondisi ini perlu diwaspadai. Terapi fisik biasanya membantu untuk melatih koordinasi otot mulutnya.
b. Gangguan Fonologi
Berbeda dengan artikulasi, di sini Si Kecil mampu mengucapkan bunyi huruf tunggal. Namun, mereka kesulitan menyusun bunyi tersebut menjadi kata yang benar. Mereka sering memotong bagian kata tertentu agar lebih mudah diucapkan. Misal, kata “makan” hanya diucapkan “aka” secara terus-menerus. Mereka seolah punya aturan sendiri, dimana hanya mereka yang paham maknanya. Hal ini membuat ucapan Si Kecil sulit dimengerti orang lain.
3. Berdasarkan Penyebab (Etiologi)

Pakar biasanya membagi jenis speech delay berdasarkan akar masalah yang mendasarinya. Apakah ini hanya masalah kebiasaan di rumah, atau ada gangguan medis yang serius? Tanpa tahu penyebab pastinya, Ayah Bunda mungkin akan salah dalam memberikan stimulasi. Mari kita bedah perbedaan mendasar antara faktor fungsional dan faktor medis berikut ini.
a. Keterlambatan Bicara Fungsional (Primary Speech Delay)
Kelompok ini sering disebut sebagai late talker. Kabar baiknya, secara fisik Si Kecil memiliki organ pendengaran dan kecerdasan yang normal. Tidak ada masalah pada saraf otak maupun bentuk mulut mereka sama sekali. Biasanya, jenis speech delay ini muncul akibat kurangnya stimulasi interaktif dari lingkungan. Si Kecil mungkin terlalu asyik dengan gawai sehingga jarang mendengar percakapan dua arah. Namun, dengan perubahan pola asuh yang tepat, mereka biasanya bisa mengejar ketertinggalannya.
b. Keterlambatan Bicara Sekunder (Secondary Speech Delay)
Kondisi ini jauh lebih kompleks karena berkaitan dengan masalah kesehatan yang menyertai anak. Ayah Bunda perlu lebih jeli karena penanganannya butuh kolaborasi dengan tenaga medis. Memahami akar masalah pada jenis speech delay ini sangat penting agar terapi yang diberikan tepat sasaran.
Berikut adalah beberapa kondisi medis yang umumnya memicu hambatan bicara tersebut:
- Gangguan Pendengaran: Anak tidak bisa meniru suara karena tidak mendengarnya.
- Spektrum Autisme (ASD): Hambatan dalam interaksi sosial yang memengaruhi keinginan anak untuk berkomunikasi.
- Hambatan Kognitif: Proses pengolahan bahasa yang membutuhkan waktu lebih lama akibat perkembangan otak tertentu.
- Kelainan Struktural: Adanya kondisi seperti tongue-tie atau celah langit-langit.
Pencegahan dan Penanganan Speech Delay
Mencegah tentu jauh lebih baik daripada harus mengobati di masa depan. Stimulasi di rumah memegang peranan paling besar dalam tumbuh kembang anak. Ayah Bunda adalah sosok guru pertama yang paling berpengaruh bagi Si Kecil. Berikut adalah langkah nyata untuk menangani risiko speech delay sejak dini:
- Kurangi penggunaan gadget atau menonton televisi pada anak usia dini. Paparan layar yang berlebihan dapat menghambat interaksi sosial yang nyata. Gantilah waktu tersebut dengan kegiatan bermain bersama yang jauh lebih interaktif.
- Bacakan buku cerita untuk menambah kosa kata mereka secara alami. Deskripsikan setiap benda yang Ayah Bunda lihat di sekitar rumah dengan jelas. Ajak Si Kecil berbicara seolah-olah mereka sudah bisa menjawab dengan lancar.
- Manfaatkan permainan seperti puzzle atau kartu bergambar untuk memancing suara anak. Permainan tracing juga baik untuk melatih fokus dan koordinasi motorik mereka. Pastikan suasana belajar selalu menyenangkan tanpa memberikan tekanan yang berlebih.
- Jika stimulasi mandiri belum membuahkan hasil, jangan ragu mencari bantuan profesional. Terapi wicara adalah solusi paling efektif untuk menangani berbagai jenis speech delay. Semakin cepat ditangani, maka hasil yang didapatkan tentu akan semakin optimal.
Baca Juga: Kapan Saat yang Tepat untuk Membawa Anak Terapi?
Atasi Speech Delay Si Kecil Bersama Pusat Terapi Bermain
Mengenali berbagai jenis speech delay adalah langkah pertama untuk memetakan kebutuhan tumbuh kembang Si Kecil. Setiap hambatan, baik dari sisi kognitif maupun mekanis, membutuhkan pendekatan stimulasi yang berbeda pula. Penanganan yang tepat akan memengaruhi kepercayaan diri anak saat bersosialisasi. Melalui deteksi dini serta lingkungan yang suportif, potensi komunikasi anak dapat berkembang lebih maksimal.
Memberikan bantuan yang spesifik sejak dini merupakan investasi terbaik bagi masa depan buah hati. Ayah Bunda bisa mendiskusikan kondisi ini lebih lanjut melalui Layanan Terapi Wicara dari Pusat Terapi Bermain. Kami menerapkan metode pendekatan personal (one on one) yang dirancang khusus sesuai dengan kebutuhan unik setiap anak. Program ini fokus pada perkembangan bahasa yang terukur agar hasilnya terlihat secara nyata.
Percayakan langkah pertama Si Kecil untuk mulai bercerita dengan bantuan tenaga profesional yang berpengalaman. Segera hubungi cabang terdekat:
- Grand Depok City: 0813-1339-3636
- Sawangan: 0821-2242-1616
- Karawaci: 0852-1236-1717
- Cibinong: 0852-1236-1717
- Kebagusan: 0813-1339-2626