Hubungi Kami

Jam Layanan

Senin – Sabtu : 08.00 – 16.00

Bagaimana Cara Terapi Okupasi Anak Autis di Rumah?

Terapi Okupasi Anak Autis

Autisme adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi cara otak mengolah sinyal dari panca indra. Kondisi ini dipengaruhi oleh gangguan konektivitas antar sel saraf yang tidak sinkron saat mengirimkan pesan. Akibatnya, Si Kecil sering mengalami hambatan motorik dan sulit untuk mengontrol gerakan tubuh secara presisi.

Melansir dari Kompas, penyandang autis di Indonesia mencapai angka 2,4 juta jiwa. Sayangnya, angka sebesar ini tidak dibarengi dengan ketersediaan fasilitas terapi yang merata di setiap daerah. Hal inilah yang membuat Ayah Bunda mulai mencari beberapa alternatif solusi, salah satunya dengan terapi okupasi anak autis yang bisa dilakukan dari rumah.

Baca Juga: Apa Itu Terapi Okupasi? Apakah Berbeda Dengan Fisioterapi?

Apa itu Terapi Okupasi Anak Autis?

Terapi okupasi anak autis adalah cara melatih koordinasi antara otak dan anggota tubuh agar bisa bekerja sama. Sering kali, sinyal dari otak Si Kecil tidak sampai dengan tepat ke tangan atau kakinya. Hal ini menyebabkan mereka kesulitan melakukan hal sederhana seperti memegang sendok atau mengancingkan baju.

Metode ini bekerja dengan memberikan rangsangan fisik yang bertujuan menyelaraskan kembali gangguan fungsi saraf tersebut. Ayah Bunda bisa memberikan latihan yang fokus pada gerakan tangan, keseimbangan, hingga cara anak merespons sentuhan. Tujuannya agar Si Kecil tidak lagi merasa asing dengan anggota tubuhnya sendiri saat harus beraktivitas.

Aktivitas Terapi Okupasi Anak Autis Yang Menyenangkan

Ayah Bunda bisa memulai latihan ini dari rumah tanpa peralatan yang mahal. Kunci keberhasilan latihan ini terletak pada konsistensi dan cara Ayah Bunda memberikan tantangan baru setiap harinya. Berikut adalah 7 aktivitas yang dirancang untuk merangsang saraf motorik serta sensorik Si Kecil secara seimbang.

1. Merayap di Dalam Terowongan Selimut

Terapi Okupasi Anak Autis

Ayah Bunda bisa membuat lorong sempit menggunakan kursi yang ditutupi selimut tebal. Mintalah Si Kecil merayap melewati lorong tersebut hingga badannya terhimpit di antara lantai dan beban selimut. Saat merayap, otot dan sendi anak menerima tekanan kuat dari atas dan bawah secara bersamaan.

Tekanan berat tersebut membuat saraf otot mengirimkan sinyal posisi tubuh yang jauh lebih kuat ke otak. Ketika otak menerima informasi posisi yang jelas, kegelisahan anak berkurang karena sistem sarafnya menjadi lebih stabil. Aktivitas terapi okupasi anak autis ini membantu anak lebih rileks dan tenang setelah berlatih.

2. Memindahkan Benda dengan Penjepit Makanan

Terapi Okupasi Anak Autis

Sediakan penjepit makanan plastik dan dua buah mangkuk berisi potongan spons atau bola kapas kecil yang lembut. Mintalah Si Kecil memindahkan semua benda tersebut ke mangkuk kosong hanya dengan menggunakan penjepit tanpa bantuan tangan lainnya. 

Gerakan menjepit ini efektif untuk menguatkan otot pada telapak dan jari tangan yang sering kali lemas. Ayah Bunda membantu anak belajar mengukur seberapa besar tenaga yang harus dikeluarkan agar benda tidak jatuh atau hancur. 

Latihan ini menjadi dasar penting agar nantinya tangan anak lebih kuat dan stabil saat harus memegang sendok.

3. Menarik dan Mendorong Keranjang Beban

Terapi Okupasi Anak Autis

Siapkan keranjang pakaian dan isi dengan tumpukan buku yang cukup berat namun tetap aman untuk digerakkan oleh anak. Mintalah Si Kecil mendorong keranjang tersebut dari ruang tamu menuju kamar. 

Saat mendorong beban, sendi dan otot besar anak akan menerima rangsangan yang membantu saraf mereka menjadi lebih tenang. Kegiatan ini mengajarkan otak anak untuk mengatur tenaga dan keseimbangan tubuh agar tidak mudah goyah atau jatuh. 

Ayah Bunda dapat menemani di sampingnya untuk memastikan arah dorongan anak tetap lurus dan tidak menabrak benda lain.

4. Bermain Tekstur di Dalam Kotak Misteri

Terapi Okupasi Anak Autis

Isi sebuah kotak besar dengan beras atau kacang hijau lalu sembunyikan beberapa mainan plastik berukuran kecil di dalamnya. Biarkan Si Kecil memasukkan kedua tangannya ke dalam tumpukan biji-bijian tersebut untuk mencari dan menemukan mainan yang tersembunyi. 

Gesekan antara butiran beras dengan kulit tangan membantu anak agar tidak lagi merasa terlalu geli atau takut saat menyentuh benda asing. Aktivitas ini melatih saraf peraba anak agar lebih berani menerima berbagai macam tekstur benda yang ada di lingkungan rumah.

5. Berjalan di Atas Garis Perekat

Tempelkan lakban berwarna cerah di atas lantai membentuk jalur lurus yang panjang dan sedikit berkelok seperti jalanan di pegunungan. Ajak Si Kecil berjalan menyusuri garis tersebut dengan posisi tumit kaki depan harus menyentuh ujung jari kaki belakangnya. 

Latihan ini membantu otak anak mengatur keseimbangan tubuh agar tetap tegak dan tidak mudah oleng saat sedang berjalan. Ayah Bunda bisa meletakkan benda kecil di ujung garis sebagai hadiah agar anak merasa lebih semangat untuk mencapai tujuan.

6. Menyusun Puzzle dengan Tekstur Berbeda

Pilihlah puzzle kayu yang memiliki permukaan timbul atau bagian-bagian yang dilapisi dengan kain beludru maupun kertas pasir yang kasar. Saat menyusun, minta Si Kecil meraba setiap kepingan puzzle sebelum memasangkannya ke tempat yang benar pada papan gambar yang tersedia. 

Perbedaan rasa saat menyentuh permukaan puzzle ini membantu saraf mata dan tangan anak bekerja sama dengan lebih teliti. Anak akan belajar mengenali bentuk dan ruang melalui sentuhan jari mereka secara langsung tanpa perlu merasa terburu-buru. 

Ayah Bunda bisa memberikan pujian setiap kali anak berhasil memasangkan kepingan puzzle tersebut dengan posisi yang tepat.

7. Merobek dan Menempel Kolase Kertas

Siapkan kertas majalah bekas atau kertas kado yang sudah tidak terpakai untuk dirobek oleh Si Kecil menjadi potongan kecil. Setelah itu, minta anak menempelkan semua sobekan kertas tersebut pada sebuah gambar. 

Merobek kertas melatih kedua tangan anak untuk melakukan gerakan yang berlawanan arah secara bersamaan dengan tenaga yang pas. Kegiatan ini sangat berguna untuk melatih ketangkasan jari tangan agar lebih lincah saat melakukan aktivitas lainnya. 

Baca Juga: 15 Rekomendasi Alat Terapi Okupasi Anak Paling Efektif

Konsultasikan Tumbuh Kembang Si Kecil Bersama Pusat Terapi Bermain

Melatih gerakan tubuh Si Kecil lewat permainan di rumah membantu otak mengolah perintah dengan lebih tepat. Kegiatan dalam terapi okupasi anak autis ini membuat tangan dan kaki anak jadi lebih mudah diarahkan saat beraktivitas. Ayah Bunda cukup konsisten menemani proses latihan sederhana agar saraf anak terbiasa merespons benda di sekitarnya. Suasana yang tenang tanpa paksaan akan membuat anak merasa lebih nyaman saat belajar mengontrol gerak tubuhnya sendiri.

Setiap anak membutuhkan jenis stimulasi berbeda yang disesuaikan dengan kendala tubuh yang mereka hadapi saat ini. Jika ingin bantuan yang lebih terarah untuk Si Kecil, Ayah Bunda bisa mencoba Layanan Terapi Okupasi dari Pusat Terapi Bermain.

Disini kami fokus pada pendekatan personal yang menyesuaikan tantangan yang dihadapi Si Kecil. Tim ahli kami akan mendampingi anak mengenali setiap potensi dirinya melalui metode bermain yang menyenangkan dan edukatif. Ayah Bunda pun dilibatkan secara aktif untuk memastikan perkembangan emosional anak tetap terjaga.

Yuk, mulai dukung langkah kecil Si Kecil hari ini agar mereka lebih siap menghadapi hari esok!

Scroll to Top