
Ciri sensori integrasi disorder penting dikenali oleh Ayah Bunda karena kondisi ini dapat memengaruhi cara Si Kecil menerima, mengolah, dan merespons berbagai rangsangan dari lingkungan. Anak mungkin tampak sangat sensitif terhadap suara, sentuhan, atau cahaya. Sebaliknya, ada juga anak yang justru mencari rangsangan sensorik secara berlebihan, seperti terus melompat, berputar, atau menyentuh berbagai benda di sekitarnya.
Gangguan sensori integrasi atau Sensory Processing Disorder (SPD) bukan berarti anak mengalami gangguan kecerdasan. Banyak anak dengan kondisi ini memiliki kemampuan berpikir yang baik, tetapi mengalami kesulitan mengolah informasi yang diterima melalui pancaindra. Akibatnya, aktivitas sehari-hari seperti belajar, bermain, makan, berpakaian, hingga berinteraksi dengan orang lain dapat menjadi lebih menantang.
Apa Itu Sensori Integrasi Disorder?
Sensori Integrasi Disorder atau lebih dikenal sebagai Sensory Processing Disorder (SPD) adalah kondisi ketika otak mengalami kesulitan menerima, mengolah, atau memberikan respons yang tepat terhadap rangsangan sensorik. Rangsangan tersebut dapat berasal dari sentuhan, suara, cahaya, gerakan, posisi tubuh, rasa, maupun penciuman.
Akibatnya, anak dapat menunjukkan respons yang berbeda dibandingkan anak seusianya. Ada yang menjadi sangat sensitif terhadap rangsangan tertentu, ada yang kurang responsif, dan ada pula yang terus mencari stimulasi sensorik. Setiap anak memiliki ciri-ciri unik yang berbeda-beda, sehingga penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh guna memahami kebutuhan terapi mereka.
Mengapa Sensori Integrasi Disorder Bisa Terjadi?
Hingga saat ini, penyebab pasti gangguan sensori integrasi masih belum diketahui. Namun, para ahli meyakini bahwa kondisi ini berkaitan dengan cara sistem saraf memproses informasi sensorik yang diterima dari lingkungan. Beberapa faktor yang diduga berperan antara lain:
- Perkembangan sistem saraf yang belum optimal.
- Faktor genetik atau riwayat keluarga.
- Kelahiran prematur.
- Berat badan lahir rendah.
- Riwayat komplikasi saat kehamilan atau persalinan.
- Gangguan perkembangan tertentu, seperti autisme atau ADHD.
- Kondisi neurologis tertentu yang mempengaruhi pemrosesan sensorik.
Baca juga: Terapi Bermain Puzzle pada Anak – Manfaat dan Tujuannya!
Ciri Sensori Integrasi Disorder pada Anak
Setiap anak dapat menunjukkan gejala yang berbeda. Sebagian orang sangat sensitif terhadap rangsangan tertentu, sementara yang lain justru memerlukan rangsangan yang lebih kuat. Berikut beberapa ciri sensori integrasi disorder yang sering ditemukan:
1. Sangat Sensitif terhadap Sentuhan

Sebagian anak merasa tidak nyaman ketika disentuh, dipeluk, atau menggunakan pakaian dengan bahan tertentu. Label baju, kaus kaki, atau jahitan pakaian yang bagi orang lain terasa biasa dapat membuat Si Kecil merasa terganggu bahkan menangis. Mereka juga dapat menolak memegang benda dengan tekstur tertentu seperti pasir, rumput, cat jari, atau plastisin.
Sensitivitas terhadap sentuhan ini dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, termasuk saat mandi, memotong kuku, menyisir rambut, atau memakai pakaian. Akibatnya, anak sering terlihat menghindari aktivitas tertentu karena merasa tidak nyaman. Apabila berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat menghambat kemandirian dan partisipasi anak dalam berbagai kegiatan.
2. Terlalu Sensitif terhadap Suara atau Cahaya

Anak dengan gangguan sensori integrasi dapat menunjukkan reaksi yang berlebihan terhadap suara keras, musik, bel sekolah, atau keramaian. Mereka mungkin menutup telinga, menangis, atau berusaha menjauh dari sumber suara meskipun suara tersebut dianggap normal oleh orang lain.
Selain suara, cahaya yang terlalu terang atau berkedip juga dapat membuat Si Kecil merasa tidak nyaman. Beberapa anak tampak sering memicingkan mata, menolak berada di ruangan tertentu, atau sulit berkonsentrasi ketika lingkungan terlalu ramai secara visual. Respons yang berlebihan ini terjadi karena otak kesulitan mengolah informasi sensorik secara optimal.
3. Sering Mencari Rangsangan Sensorik

Tidak semua anak dengan SPD bersifat sensitif. Sebagian justru terus mencari rangsangan sensorik karena merasa membutuhkan stimulasi yang lebih besar agar tubuhnya merasa nyaman. Misalnya, anak senang melompat, berlari tanpa henti, berputar-putar, memanjat, atau membenturkan tubuh ke sofa dan bantal.
Perilaku tersebut sering disalahartikan sebagai kenakalan atau hiperaktif. Padahal, bagi anak dengan gangguan sensori integrasi, aktivitas tersebut merupakan cara tubuh mencari masukan sensorik yang dibutuhkan. Oleh karena itu, penting untuk memahami penyebab di balik perilaku anak sebelum memberikan penilaian.
Baca juga:Â Terapi Bermain pada Anak Sesuai Umur untuk Pertumbuhan Mereka
4. Kesulitan Menjaga Keseimbangan dan Koordinasi

Anak dengan gangguan sensori integrasi juga dapat mengalami hambatan pada sistem vestibular yang berperan dalam menjaga keseimbangan tubuh. Akibatnya, Si Kecil tampak sering terjatuh, kesulitan naik turun tangga, atau kurang percaya diri saat mencoba aktivitas fisik baru.
Anak mungkin mengalami kesulitan menangkap bola, mengayuh sepeda, melompat dengan satu kaki, atau melakukan aktivitas yang membutuhkan koordinasi mata dan tangan. Jika tidak mendapatkan stimulasi yang tepat, kemampuan motoriknya dapat berkembang lebih lambat dibandingkan teman seusianya.
5. Sulit Berkonsentrasi dan Mengikuti Aktivitas

Gangguan dalam memproses rangsangan sensorik dapat membuat anak mudah terdistraksi oleh lingkungan sekitar. Suara kecil, cahaya, atau sentuhan ringan yang bagi orang lain tidak mengganggu justru dapat mengalihkan perhatian Si Kecil dari aktivitas yang sedang dilakukan.
Akibatnya, anak tampak sulit mengikuti instruksi, cepat berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain, atau kesulitan menyelesaikan tugas hingga selesai. Kondisi ini dapat mempengaruhi proses belajar di sekolah maupun aktivitas sehari-hari apabila tidak ditangani dengan tepat.
Dampak Sensori Integrasi Disorder terhadap Kehidupan Sehari-hari
Gangguan integrasi sensorik bisa berpengaruh pada berbagai bidang kehidupan anak jika tidak ditangani dengan benar. Beberapa dampak yang dapat muncul antara lain:
- Kesulitan mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
- Hambatan dalam bersosialisasi dengan teman sebaya.
- Sulit melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri.
- Mudah merasa frustasi ketika menghadapi situasi tertentu.
- Gangguan koordinasi motorik.
- Kesulitan mempertahankan fokus dan perhatian.
- Menurunnya rasa percaya diri akibat sering mengalami kegagalan dalam aktivitas sehari-hari.
Baca juga: Cara Melatih Fokus Anak – 5 Strategi Melatih Konsentrasi!
Kapan Ayah Bunda Perlu Berkonsultasi?
Jika orang tua melihat beberapa gejala tersebut muncul kembali dan mulai mengganggu kegiatan Harian Si Kecil, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter atau terapis perkembangan. Evaluasi sejak dini membantu mengetahui apakah perilaku tersebut merupakan bagian dari variasi perkembangan normal atau memerlukan intervensi khusus. Segera lakukan pemeriksaan apabila:
- Anak menunjukkan beberapa ciri sensori integrasi disorder sekaligus.
- Respons terhadap rangsangan sensorik mengganggu aktivitas sehari-hari.
- Anak mengalami keterlambatan perkembangan motorik.
- Kesulitan sensorik mempengaruhi proses belajar.
- Anak sering mengalami tantrum akibat rangsangan tertentu.
- Guru atau tenaga kesehatan menyarankan evaluasi tumbuh kembang.
Kenali Ciri Sensori Integrasi Disorder untuk Mendukung Perkembangan Si Kecil
Mengenali ciri sensori integrasi disorder sejak dini merupakan langkah penting agar Si Kecil memperoleh penanganan yang sesuai dengan kebutuhannya. Perlu diingat bahwa setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan satu atau dua gejala saja. Asesmen oleh tenaga profesional diperlukan untuk mengetahui penyebab dan menentukan program terapi yang paling tepat.
Apabila Ayah Bunda melihat tanda-tanda gangguan sensori integrasi pada Si Kecil, jangan ragu untuk berkonsultasi lebih awal. Pusat Terapi Bermain menyediakan layanan asesmen tumbuh kembang, terapi sensori integrasi, terapi okupasi, terapi bermain, dan berbagai program intervensi lain yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak. Bersama terapis profesional, Si Kecil akan mendapatkan pendampingan yang aman, menyenangkan, dan terarah. Konsultasikan bersama terapis kami sekarang!
Hubungi Kami Di sini Sekarang: