![]()
Rasa cemas sering kali muncul saat Ayah Bunda menyadari Si Kecil menjadi pendiam. Kekhawatiran ini biasanya berawal dari harapan melihat buah hati mulai aktif merespons suara di sekitarnya. Padahal, fase komunikasi seharusnya sudah mulai terlihat sejak bayi melalui gumaman atau reaksi sederhana. Mengenali ciri-ciri speech delay sejak dini dapat membantu orang tua melakukan langkah preventif.
Intervensi yang cepat membantu saraf otak bekerja lebih maksimal untuk menangkap stimulasi bahasa. Ayah Bunda tidak perlu menunggu anak masuk usia sekolah untuk memulai konsultasi ahli. Memahami tanda keterlambatan ini sejak sekarang akan memudahkan proses pemulihan komunikasi buah hati.
Baca Juga: Waspada! Ini Bahaya Speech Delay bagi Masa Depan Anak
Apa Itu Speech Delay?
Secara sederhana, speech delay merupakan kondisi saat kemampuan bicara anak tidak berkembang sesuai usianya. Kondisi ini berbeda dengan gangguan bahasa yang melibatkan kesulitan memahami sebuah instruksi panjang. Speech delay lebih berfokus pada hambatan Si Kecil dalam memproduksi suara atau kata-kata. Ayah Bunda perlu memahami bahwa perkembangan bicara setiap anak memang memiliki keunikan tersendiri. Namun, ada standar perkembangan komunikasi yang tetap harus menjadi acuan orang tua di rumah.
Banyak faktor yang memicu kondisi ini, mulai dari kurangnya stimulasi hingga masalah pendengaran. Terkadang, masalah pada struktur mulut seperti tongue-tie juga bisa menjadi penyebab utama hambatan ini. Memahami ciri-ciri speech delay sejak awal membantu Ayah Bunda untuk tetap tenang dan objektif. Pengetahuan yang tepat akan menjauhkan orang tua dari rasa panik yang tidak perlu saat bertindak.
Ciri-Ciri Speech Delay Berdasarkan Usia
Setiap tahapan usia memiliki tonggak pencapaian komunikasi tersendiri. Ayah Bunda perlu memperhatikan detail kecil dalam interaksi harian dengan Si Kecil agar tidak melewatkan setiap tanda yang muncul. Berikut adalah panduan mendalam mengenai indikator keterlambatan bicara sesuai dengan fase pertumbuhan Si Kecil.
1. Usia 0-12 Bulan

Pada fase ini, komunikasi Si Kecil dimulai melalui suara sederhana atau babbling seperti “ba-ba” atau “da-da”. Bayi yang sehat biasanya mulai meniru bunyi di sekitarnya dan merespons suara orang tua. Ayah Bunda perlu memperhatikan jika Si Kecil tidak kunjung mengeluarkan celoteh spontan hingga usia 6 bulan. Kurangnya reaksi terhadap suara keras di sekitar juga menjadi indikator awal yang memerlukan perhatian khusus.
Memasuki usia 12 bulan, anak idealnya sudah mulai menggunakan gerakan tubuh seperti menunjuk atau melambai. Minimnya kontak mata saat diajak berinteraksi merupakan salah satu ciri-ciri speech delay yang cukup objektif. Anak pada usia ini setidaknya harus menunjukkan usaha untuk mendapatkan perhatian melalui suara atau gestur. Jika Si Kecil tampak tidak bereaksi saat namanya dipanggil, cobalah untuk melakukan observasi mandiri secara berkala.
2. Usia 12-18 Bulan

Memasuki usia satu tahun, Si Kecil idealnya mulai memahami instruksi sederhana dari orang tua. Mereka biasanya akan bereaksi saat diajak makan atau diminta mengambil mainan favorit mereka. Ayah Bunda perlu waspada jika anak tampak kesulitan atau tidak ada ketertarikan meniru suara baru. Ketiadaan usaha untuk bereaksi terhadap perintah verbal bisa menjadi sinyal awal adanya hambatan perkembangan bicara.
Pada fase ini, perhatikan apakah Si Kecil hanya mengandalkan gerakan tangan tanpa ada usaha mengeluarkan suara. Menggunakan gestur adalah hal normal, namun ketiadaan kosakata tunggal tetap menjadi poin observasi penting. Menurut standar perkembangan, anak usia 18 bulan idealnya sudah mengenal beberapa nama anggota keluarga atau benda rutin.
3. Usia 18-24 Bulan

Memasuki usia dua tahun, Si Kecil idealnya mengalami peningkatan jumlah kosakata secara drastis dan cepat. Mereka biasanya mulai mencoba merangkai dua kata sederhana, seperti meminta minum atau mengajak makan. Ayah Bunda perlu memperhatikan jika anak belum mampu menggabungkan kata pada tahap perkembangan ini. Keterbatasan dalam menyusun kalimat pendek bisa menjadi sinyal kuat adanya hambatan komunikasi yang lebih serius.
Perhatikan juga apakah Si Kecil hanya bisa mengulang ucapan orang lain tanpa maksud berkomunikasi secara aktif. Kebiasaan membeo atau ekolalia yang terus-menerus sering kali menjadi bagian dari ciri-ciri speech delay. Berdasarkan data kesehatan, anak usia 24 bulan setidaknya harus memiliki simpanan sekitar 50 kosakata tunggal. Jika kemampuan bicara anak tampak tidak berkembang atau justru menurun, pastikan Ayah Bunda mencatat pola komunikasinya.
4. Usia 2-3 Tahun

Pada tahap ini, ucapan Si Kecil seharusnya sudah mulai bisa dipahami oleh orang di luar anggota keluarga. Anak idealnya mampu menyusun kalimat yang terdiri dari tiga kata atau lebih untuk menyampaikan keinginan. Ayah Bunda perlu memperhatikan jika artikulasi suara yang dihasilkan anak masih terdengar sangat tidak jelas atau bergumam. Kendala dalam menyampaikan pesan sering kali membuat anak merasa tidak nyaman saat berinteraksi dengan orang baru.
Ketidakmampuan anak dalam menyebutkan nama benda umum atau bagian tubuh sendiri juga menjadi indikator penting. Hal ini menunjukkan adanya hambatan dalam menghubungkan konsep kata dengan objek yang ada di dunia nyata. Munculnya kendala tersebut merupakan tanda ciri-ciri speech delay yang membutuhkan pemantauan lebih spesifik dari orang tua. Cobalah memberikan stimulasi tambahan melalui percakapan dua arah yang lebih intens di rumah.
5. Usia 3-4 Tahun

Pada usia ini, anak seharusnya sudah mahir menggunakan kalimat panjang untuk menjelaskan kejadian sederhana. Mereka juga mulai memahami konsep posisi seperti di atas, di bawah, atau di dalam. Ayah Bunda juga perlu memperhatikan apakah Si Kecil sudah bisa bertanya menggunakan kata tanya seperti apa atau mengapa.
Jika pola kalimat Si Kecil masih berantakan atau sulit dimengerti, segera lakukan pemeriksaan ke dokter atau tenaga ahli. Mengenali ciri-ciri speech delay pada tahap akhir prasekolah ini sangat penting untuk kesiapan mereka di sekolah nanti. Terapi profesional pada usia ini masih efektif untuk membantu mengejar ketertinggalan. Jangan ragu untuk berkonsultasi pada ahli jika Ayah Bunda merasa ada yang tidak sesuai dengan standar usia anak.
Baca Juga: Bagaimana Cara Terapi Wicara Anak Speech Delay?Ini 7 Tipsnya!
Optimalkan Perkembangan Komunikasi Si Kecil Bersama Pusat Terapi Bermain
Memahami ciri-ciri speech delay sejak dini merupakan langkah strategis untuk memastikan komunikasi Si Kecil berjalan optimal. Mulai dari respons suara bayi hingga kemampuan menyusun kalimat kompleks, setiap tahapan memiliki standar pencapaian nyata. Identifikasi tepat terhadap jumlah kosakata dan kejelasan artikulasi membantu orang tua membedakan variasi pertumbuhan normal dengan hambatan bicara. Deteksi mandiri yang cepat sangat krusial agar hambatan komunikasi tidak mengganggu aspek sosialisasi anak di masa depan.
Jika Ayah Bunda membutuhkan bantuan profesional untuk mengevaluasi perkembangan komunikasi Si Kecil, Layanan Terapi Wicara dari Pusat Terapi Bermain siap membantu. Setiap layanan program terapi dirancang secara individual oleh terapis profesional untuk membantu anak berkembang lebih optimal sesuai kebutuhannya.Konsultasi lebih awal memberikan peluang lebih besar bagi anak untuk mengejar ketertinggalannya.
Segera hubungi cabang terdekat kami untuk memulai langkah besar bagi masa depan mandiri Si Kecil.
- Grand Depok City: 0813-1339-3636
- Sawangan: 0821-2242-1616
- Karawaci: 0852-1236-1717
- Cibinong: 0852-1236-1717
- Kebagusan: 0813-1339-2626