Hubungi Kami

Jam Layanan

Senin – Sabtu : 08.00 – 16.00

Bagaimana Contoh Kasus Terapi Behavior Pada Si Kecil?

contoh kasus terapi behavior

Ayah Bunda, melihat Si Kecil sering tantrum tanpa sebab jelas tentu saja membingungkan. Rasanya sudah segala cara dilakukan, namun komunikasi masih terhambat dan emosinya sulit untuk diredam. Kondisi ini sering kali muncul karena Si Kecil belum memiliki alat yang tepat untuk menyampaikan maksudnya, sehingga ia mengungkapkannya lewat perilaku. 

Oleh karena itu, mempelajari contoh kasus terapi behavior dapat memberikan gambaran nyata bagi Ayah Bunda tentang cara memberikan respon yang benar agar emosi Si Kecil lebih terkendali. 

Baca Juga: Terapi Behavior Anak – Solusi Efektif Atasi Tantrum

Contoh Kasus Terapi Behavior Pada Si Kecil

Mari kita lihat bagaimana penerapan contoh kasus terapi behavior secara nyata dalam membantu tantangan tumbuh kembang yang sering Ayah Bunda hadapi sehari-hari.

1. Kasus Speech Delay (Keterlambatan Bicara)

contoh kasus terapi behavior

Speech delay adalah kondisi di mana Si Kecil belum mencapai kemampuan bicara yang sesuai dengan tonggak perkembangan usianya. Hal ini biasanya dipicu oleh kurangnya stimulasi interaksi dua arah hingga muncul gangguan neurologis pada area bahasa di otak. 

Dalam contoh kasus terapi behavior untuk anak yang speech delay, terapis umumnya menggunakan teknik Mand Training dan Natural Environment Teaching (NET). Teknik ini tidak memaksa anak untuk menghafal kata, melainkan fokus pada motivasi internal Si Kecil untuk meminta benda yang mereka inginkan. Melalui pendekatan ini, anak diajarkan bahwa berkomunikasi secara lisan jauh lebih efektif untuk mendapatkan sesuatu daripada sekadar menangis atau menarik tangan.

Cara kerjanya dimulai dengan terapis memegang mainan favorit anak, lalu memberikan bantuan (prompting) berupa contoh bunyi vokal awalannya, seperti kata “bo” untuk bola. Begitu Si Kecil mencoba mengikuti suara tersebut, segera berikan mainannya sebagai hadiah atas usahanya. Lewat proses ini, anak akan memahami logika penting bahwa mengeluarkan suara adalah kunci utama untuk mendapatkan apa yang ia inginkan dengan cepat.

2. Kasus Anak Tantrum Hebat

contoh kasus terapi behavior

Tantrum biasanya terjadi karena Si Kecil belum mampu mengelola rasa kecewa saat keinginannya tidak terpenuhi. Menurut riset American Psychological Association, anak-anak sering menggunakan amukan sebagai senjata untuk memaksa orang tua agar menuruti kemauan mereka. Jika Ayah Bunda sering menyerah dan menuruti amukan tersebut, Si Kecil justru akan belajar bahwa menangis histeris adalah cara terbaik untuk mendapatkan apa yang ia mau.

Dalam contoh kasus terapi behavior untuk mengatasi tantrum, teknik yang digunakan adalah Extinction (pengabaian terencana) dan Functional Communication Training (FCT). Inti dari teknik ini adalah memutus pola pikir anak bahwa marah akan membuahkan hasil. Sebaliknya, anak akan diajarkan cara meminta sesuatu dengan cara yang lebih tenang agar Ayah Bunda lebih mudah memahami dan merespons keinginannya.

Cara praktiknya, Ayah Bunda harus tetap tenang dan tidak memberikan reaksi atau perhatian apapun saat Si Kecil mulai membanting diri. Begitu ia berhenti menangis dan mulai tenang, barulah ajak ia berdialog serta berikan pujian tulus karena telah berhasil mengontrol emosinya. Konsistensi dalam mengabaikan amukan ini sangat penting agar anak menyadari bahwa berteriak sudah tidak lagi ampuh untuk mendapatkan perhatian.

3. Kasus ADHD (Gangguan Fokus)

contoh kasus terapi behavior

Anak dengan ADHD umumnya sangat sulit untuk duduk tenang dan fokus pada satu tugas dalam waktu lama. Kondisi ini dipicu oleh ketidakseimbangan senyawa kimia di otak yang bertugas mengatur konsentrasi dan pengendalian diri. Akibatnya, perhatian Si Kecil sangat mudah teralihkan oleh gangguan kecil di sekitarnya.

Dalam contoh kasus terapi behavior untuk meningkatkan fokus ini, teknik yang sering digunakan adalah Token Economy. Teknik ini bekerja dengan cara memberikan penghargaan simbolis sebagai bentuk apresiasi atas usaha anak untuk tetap fokus. Tujuannya adalah membangun motivasi agar Si Kecil merasa bahwa menyelesaikan tugas kecil adalah aktivitas yang menguntungkan.

Cara praktiknya, Ayah Bunda bisa memberikan satu stiker setiap kali Si Kecil berhasil fokus mengerjakan tugas selama 5 hingga 10 menit tanpa beranjak dari kursi. Jika stiker sudah terkumpul sesuai target yang disepakati, ia boleh menukarnya dengan hadiah seperti camilan favorit atau lainnya. Melalui sistem ini, anak akan belajar menghargai proses dan perlahan-lahan mampu memperpanjang durasi konsentrasinya secara mandiri.

4. Kasus Self Harm (Menyakiti Diri Sendiri)

contoh kasus terapi behavior

Menyakiti diri, seperti membenturkan kepala, biasanya merupakan cara ekstrem Si Kecil untuk menunjukkan rasa tidak nyaman yang tidak bisa ia ungkapkan. Riset dalam Journal of Autism and Developmental Disorders menyebutkan hal ini sering dipicu oleh rasa sakit sensorik akibat lingkungan yang terlalu bising atau ramai. 

Dalam contoh kasus terapi behavior ini, teknik yang digunakan adalah Differential Reinforcement of Alternative Behavior (DRA) atau pengalihan perilaku. Teknik ini fokus mengganti tindakan berbahaya dengan cara komunikasi baru yang jauh lebih aman bagi fisik anak. Tujuannya adalah membiasakan Si Kecil agar bisa menyampaikan rasa tidak nyamannya tanpa harus mencederai dirinya sendiri.

Cara praktiknya, saat Si Kecil mulai terlihat gelisah, segera sediakan penghalang empuk seperti bantal untuk mencegah cedera fisik. Sambil meredam benturan, latih anak untuk menggunakan cara lain, seperti menepuk tangan Ayah Bunda jika merasa terganggu.

5. Kasus Picky Eater (Pilih-pilih Makanan)

Picky eater ekstrem biasanya terjadi karena Si Kecil merasa aroma atau tekstur makanan tertentu sebagai ancaman bagi indranya. Kondisi ini sering diperburuk oleh trauma masa lalu seperti paksaan saat makan yang membuat anak merasa tidak aman saat mencoba menu baru. Akibatnya, Si Kecil bisa menunjukkan reaksi fisik yang spontan seperti mual atau muntah hanya karena mencium aroma makanan yang asing baginya.

Dalam contoh kasus terapi behavior ini, teknik yang digunakan adalah desensitisasi sistematis atau pemaparan bertahap. Teknik ini fokus menurunkan rasa cemas anak terhadap makanan melalui langkahkecil yang menyenangkan tanpa paksaan. Tujuannya adalah membiasakan saraf sensorik Si Kecil agar lebih toleran sehingga ia tidak lagi merasa takut setiap kali melihat variasi makanan baru.

Cara praktiknya, mulailah dengan membiarkan Si Kecil melihat makanan baru di piring, lalu ajak ia menyentuh atau mencium aromanya sambil bermain santai. Jika anak menunjukkan keberanian untuk berinteraksi, segera berikan pujian agar ia merasa aman untuk mencoba langkah berikutnya seperti menjilat sedikit. Melalui proses ini, anak akan menyadari bahwa mencoba rasa baru bukanlah hal yang membahayakan melainkan aktivitas yang seru.

Baca Juga: Mengenal Jenis-jenis Terapi Behavior untuk Si Kecil

Optimalkan Tumbuh Kembang Si Kecil Melalui Pusat Terapi Bermain

Setiap contoh kasus terapi behavior di atas membuktikan bahwa setiap perilaku anak memiliki solusi jika ditangani dengan metode yang tepat dan konsisten. Perubahan positif pada Si Kecil bukan hanya tentang kepatuhan, melainkan tentang memberinya alat untuk berkomunikasi dan mengelola diri dengan lebih baik. Ayah Bunda tidak perlu merasa berjuang sendirian karena dukungan ahli akan mempercepat kemajuan anak secara signifikan dan terarah.

Pusat Terapi Bermain menyediakan solusi komprehensif melalui Behavior Therapy yang dirancang secara individual. Kami percaya bahwa setiap program terapi dirancang secara individual (one by one) untuk membantu anak berkembang lebih optimal sesuai kebutuhannya. Segera konsultasikan kondisi Si Kecil untuk mendapatkan penanganan yang tepat sasaran melalui cabang terdekat.

Scroll to Top